Selasa, 22 Mei 2012

Pengaruh Penerbangan Dalam Kehamilan



I.                   PENDAHULUAN
Kehamilan memberikan perubahan terhadap anatomi dan fisiologi wanita. Perubahan anatomi berupa pembesaran pembuluh darah uterus mengikuti uterus yang membesar, terjadi perubahan posisi organ lainnya seiring pembesaran uterus dari rongga pelvik ke kavum abdominal. Efek massa uterus menyebabkan oklusi parsial vena cava inferior sehingga menurunkan aliran darah balik ke jantung. Penurunan venous return menyebabkan penurunan cardiac output dan tekanan darah (sistolik dan diastolik). Terdapat pula
peningkatan ringan heart rate. Efek massa ini sangat dominan saat wanita hamil berbaring terlentang.1


Tabel 1. Perubahan Anatomi dan Fisiologi pada Kehamilan dan hubungannya dengan Penerbangan1

Manuver berbaring dengan posisi left lateral decubitus (15o) akan menurunkan tekanan oklusi uterus sehingga meningkatkan aliran darah balik. Stasis vena pada ekstremitas bawah menyebabkan edema dan merupakan faktor predisposisi trombosis. Uterus yang membesar juga rentan terhadap trauma sehingga dapat terjadi perdarahan. Tidal volume menurun dan laju respirasi meningkat. Secara fisiologis, terdapat peningkatan volume dan anemia akibat dilusi hipervolemia sehingga tanda-tanda syok pada wanita hamil akan timbul jika telah kehilangan darah 2 sampai 2,5 liter.1,4
Ada sejumlah risiko bagi yang bepergian menggunakan pesawat. Meskipun risiko umumnya rendah untuk wisatawan sehat, ada sub-kelompok dalam penduduk yang berada pada risiko tinggi sehingga dapat terjadi komplikasi sebagai akibat dari lingkungan penerbangan.1,4
Di antara kelompok-kelompok ini adalah wisatawan hamil dan neonatus. Perjalanan udara selama kehamilan umumnya dianggap aman dengan risiko kecil pada wanita hamil yang sehat atau untuk bayinya. Sejalan dengan pedoman maskapai penerbangan sekarang, kebanyakan menerima penumpang wanita hamil sampai usia kehamilan 36 minggu. Ada beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa selama kehamilan penerbangan adalah aman. Meskipun secara umum diterima bahwa janin lebih aman di dalam rahim melakukan penerbangan daripada sebagai neonatus di dalam inkubator, terdapat setidaknya satu studi yang menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan dalam morbiditas neonatal dan laju kematian.1

II.                LINGKUNGAN KABIN PESAWAT TERBANG
Kabin pesawat memiliki kondisi yang sama dengan kamar di rumah, seperti sirkulasi udara. Walaupun demikian, lingkungan kabin memiliki beberapa perbedaan yaitu densitas yang tinggi, tekanan kabin. Saat terbang dapat terjadi, penurunan kelembapan, penurunan tekanan udara, perubahan tekanan kabin, bising dan risiko potensial terpapar kontaminan udara, misal : ozon (O3), CO, bahan kimia dan agen biologis.2

A.    Tekanan Atmosfer Kabin yang Rendah / Hipoksia
Pesawat komersial biasanya terbang pada ketinggian 30.000 – 33.000 kaki. Tekanan atmosfer luar pada ketinggian tersebut biasanya sangat rendah, dengan tekanan parsial O2 hanya 40 mmHg. Tekanan O2 yang rendah hanya dapat menunjang hidup selama beberapa menit, tanpa tambahan oksigenasi. Sehingga kabin pesawat biasanya diatur tekanannya sehingga sama dengan tekanan atmosfer luar sekitar 6.000–8.000 kaki. Pada ketinggian ini, tekanan parsial O2 turun dari level permukaan laut yaitu 148 menjadi 108 mmHg, sesuai dengan penurunan tekanan 27%. Tiap penumpang mengalami hipoksia sedang yang asimptomatik. Tapi pada ketinggian ini tidak ada efek serius terhadap oksigenasi fetus karena kurva disosiasi hemoglobin fetus.
Namun pada pasien dengan penyakit kardio-respirasi atau anemia berat, mungkin tubuh tidak dapat mentoleransi sehingga bermanifestasi pada gejala hipoksia (sakit kepala, kelelahan, sesak napas, perasaan euforia dan mual). Pada hipoksia berat dapat terjadi perubahan tingkat kesadaran, kejang, koma, sianosis dan kematian.2
B.     Perubahan pada Tekanan Kabin
Tekanan atmosfer kabin pesawat berubah ketika pesawat turun dan naik. Laju peningkatan tekanan kabin pada kebanyakan maskapai penerbangan adalah 1 kPa (0,15 lb/in2)/menit yaitu sekitar 300 kaki/menit. Ekspansi gas pada traktus gastrointestinal yang mengembang karena penurunan tekanan sekitar, jarang meningkat melebihi perasaan mules sementara atau flatus. Walaupun demikian, pada pasien dengan infeksi saluran napas atas atau obstruksi ringan pada sinus atau tuba eustachii, udara dapat terperangkap di sinus atau cavum telinga tengah sehingga terjadi barotrauma. Pada kehamilan, nasal kongesti maupun limfatik biasanya dihubungkan dengan retensi cairan.2
C.     Radiasi Kosmik
Radiasi kosmik memberikan kontribusi sekitar 13% dari tingkat radiasi alamiah. Diyakini bersumber dari Galaksi Milky Way tapi masih belum jelas. Radiasi kosmik adalah akumulasi radiasi galaksi dan matahari. Terdiri atas partikel-partikel neutral primer (proton, partikel alfa, electron dan ion) dan partikel sekunder yang berasal dari interaksi radiasi kosmik dengan udara atmosfer (ion, neutron, sinar gamma, elektron).3
Setiap orang terpapar oleh radiasi dari material rumah tangga, tanah, batu, sinar X. Atmosfer bumi dan medan magnet merupakan barier yang kuat terhadap radiasi kosmik sehingga hanya dalam jumlah kecil radiasi yang dapat mencapai permukaan bumi. Secara alamiah, atmosfer akan bertambah tipis setiap peningkatan ketinggian sehingga terjadi juga peningkatan paparan radiasi.3
Jadi perlindungan terhadap radiasi akan meningkat jika berada pada ketinggian yang lebih rendah sehingga tingkat paparan radiasi semakin rendah. Lokasi rute penerbangan juga memberikan perbedaan pada tingkat radiasi kosmik karena faktor pelindung dari medan magnet bumi. Faktor pelindung ini maksimum pada ekuator dan berkurang secara bertahap sampai nol pada kutub selatan dan utara. Penumpang pesawat biasanya tidak secara regular bepergian dengan pesawat mengingat efek berbahaya dari radiasi kosmik. Penumpang yang sering bepergian dan para staf pesawat menghabiskan lebih banyak waktu di ketinggian sehingga terpapar oleh radiasi lebih lama.3
Efek biologis radiasi pada tubuh manusia tidak hanya tergantung pada energi tapi juga terhadap komposisinya (alfa, gamma, proton, neutron). Efek radiasi pengion pada manusia merupakan hasil dari rangkaian proses fisik dan kimia yang terjadi segera setelah pajanan (10-15 detik ­ beberapa detik), kemudian diikuti dengan proses biologik dalam tubuh. Proses biologik meliputi rangkaian perubahan pada tingkat molekuler, seluler, jaringan dan tubuh. Konsekuensi yang timbul dapat berupa kematian sel atau perubahan pada sel, bergantung pada dosis radiasi yang diterima tubuh. Pada pajanan akut dosis relatif tinggi, efek yang timbul merupakan hasil dari kematian sel yang dapat menyebabkan gangguan fungsi jaringan dan organ tubuh, bahkan kematian. Efek seperti ini disebut efek deterministik yang umumnya segera dapat teramati secara klinis setelah tubuh terpajan radiasi dengan dosis di atas dosis ambang. Selain itu, radiasi dapat tidak mematikan sel tetapi menyebabkan perubahan atau transformasi sel sehingga terbentuk sel baru yang abnormal. Perubahan ini terutama karena rusaknya materi inti sel, khususnya DNA dan kromosom. Perubahan ini berpotensi menyebabkan terbentuknya kanker pada sebagian individu terpajan atau penyakit herediter pada turunan mereka. Probabilitas timbulnya kanker dan penyakit herediter meningkat dengan bertambahnya dosis, tetapi tidak halnya dengan keparahannya. Efek ini disebut efek stokastik yang terjadi akibat pajanan radiasi tanpa ada dosis ambang. Dengan demikian, radiasi pada dosis serendah berapapun, dapat menimbulkan efek kesehatan karena sebuah kejadian ionisasi dapat menimbulkan kerusakan DNA. Dosis kecil, 10-100 mSv, Meningkatkan sekitar 1% laju kerusakan DNA yang terjadi secara alamiah. Tidak diragukan lagi bahwa tidak ada dosis atau laju dosis radiasi yang aman dalam hal menimbulkan efek pada manusia. Adanya efek kesehatan radiasi pengion dosis rendah telah mengubah pernyataan "small dose may cause harm menjadi "small dose definitely will cause harm".3,4
D.    Bising
Terdapat kelebihan frekuensi bising rendah dan tinggi pada kebanyakan kabin pesawat. Baling-baling turbo pesawat yang lebih kecil biasanya sangat bising. Uterus dan cairan amnion dapat melemahkan suara dengan frekuensi rendah dan kurang melemahkan suara frekuensi tinggi yaitu di atas 10 desibel (dB). Janin lebih rentan mengalami gangguan pendengaran dibandingkan orang dewasa jika diberikan tekanan suara. Efek bising dengan desibel tinggi tidak diketahui namun pada studi di Kanada didapatkan hubungan antara peningkatan tiga kali lipat risiko kehilangan pendengaran pada bayi akibat paparan bising 90 dB saat kehamilan.2
E.     Kelembapan Rendah
Kelembapan relative pada kabin pesawat rendah biasanya dibawah 20%. Kelembapan rendah dapat menyebabkan ketidaknyamanan mata, mulut dan hidung tapi risiko rendah pada kesehatan. Intake cairan yang cukup sebelum dan selama penerbangan dapat mengurangi gejala. Lotion pelembap kulit dan saline nasal spray dapat digunakan pada kulit dan hidung secukupnya.2
F.      Kualitas Udara Kabin
Udara pada kabin diresirkulasi (50%) dicampur dengan udara dari atmosfer luar (50%). Sistem re-sirkulasi pesawat melakukan pertukaran udara 5 – 10 kali lebih sering daripada bangunan gedung. Filter High Efficiency Particulate Air (HEPA) memastikan bahwa kontaminan seperti mikroorganisme dan partikel asap dikeluarkan.
Konsentrasi ozon (triatomic oxygen, O3) meningkat sesuai ketinggian. Ozon diketahui dapat mengakibatkan kerusakan kromosom dan berinteraksi dengan kerusakan yang disebabkan oleh agen lain misal, radiasi. Pengubah ozon bukan merupakan peralatan standar pada pesawat dengan jarak tempuh yang pendek. Pada pesawat jet yang modern, hampir semua ozon pada udara bebas dikonversi menjadi oksigen didalam kompresor yang menghasilkan tekanan udara untuk kabin. Pada saat penurunan, ketika tenaga mesin rendah ozon yang terbentuk dicegah oleh konverter katalis.2

III.             EFEK POTENSIAL TERHADAP PENUMPANG WANITA HAMIL
Disamping perubahan anatomi dan fisiologi pada wanita hamil, telah dilakukan beberapa penelitian yang menemukan beberapa efek berbahaya. Penerbangan dalam kehamilan terlihat tidak memberikan efek yang signifikan terhadap kehamilan. Penelitian ini menunjukkan hasil yang bervariasi. Suatu studi yang melibatkan sebuah kelompok sampel yang terdiri dari 222 wanita hamil menunjukkan tidak ada efek samping yang dikaitkan antara lamanya penerbangan dengan umur kehamilan saat penerbangan. Secara garis besar, penelitian ini menunjukkan tidak ada korelasi antara umur kehamilan saat persalinan, berat bayi lahir, perdarahan pervaginam, persalinan preterm (< 37 minggu), preeklmapsia dan kegawatdaruratan neonatal.1

Tabel 2. Efek Penerbangan terhadap Kehamilan1
Penelitian yang lebih besar lainnya melibatkan 546 wanita sehat yang melakukan penerbangan saat kehamilan. Sekitar 447 wanita dalam beberapa kelompok kontrol yang berbeda. Kelompok wanita yang bepergian untuk pertama kali saat hamil dengan usia kehamilan 11,2±2,2 minggu, dengan rata-rata lama penerbangan 7,8±1,2 jam. Rata-rata melakukan penerbangan sebanyak tujuh kali. Penelitian ini menunjukkan perbedaan outcome antara wanita primigravida dan multigravida. Penerbangan pada primigravida berhubungan dengan peningkatan risiko kelahiran prematur pada usia kehamilan 34-37 minggu. Usia kehamilan saat persalinan adalah 36,1±0,8 minggu, dengan BBLR (2684±481 gram) dibandingkan dengan kontrol (39,2±2,1 minggu; 3481±703 gram). Pada primigravida, ditemukan hubungan antara usia kehamilan saat persalinan dan usia kehamilan saat penerbangan pertama kali dan total lama penerbangan. Tidak ada hubungan antara multigravida yang melakukan penerbangan. Secara keseluruhan kelompok ini tidak memiliki insiden yang berbeda terhadap komplikasi serius yaitu perdarahan pervaginam, preeklampsia, kelahiran sesar atau asfiksia neonatorum/kematian neonates. Tidak ditemukan pula kasus DVT (Deep Vein Thrombosis) pada penelitian ini. Walaupun demikian, sebaiknya tetap waspada terhadap risiko DVT, wanita hamil yang sering/aktif melakukan penerbangan sebaiknya mengikuti saran dokter, menghindari konsumsi alkohol dan mendapat intake cairan yang baik.1
A.    Sebelum Penerbangan
Terdapat 2 alat skrining di bandara. Salah satunya adalah mesin X-ray yang melakukan pemeriksaan terhadap bagasi dan yang lainnya adalah alat pendeteksi metal. Mesin X-ray dilapisi dengan baik sehingga tidak memaparkan radiasi pada petugas maupun penumpang. Alat pendeteksi metal merupakan alat elektromagnetik non ion. Terpapar oleh alat ini tidak memberikan efek samping terhadap janin dan system reproduksi.2
B.     Saat Penerbangan
·         Ketidaknyamanan. Penumpang yang hamil trimester akhir biasanya tidak nyaman dengan tempat duduk, khususnya penumpang di kelas ekonomi. Penerbangan dengan jarak yang jauh dan tempat duduk yang kurang ergonomis dapat memicu nyeri punggung yang telah ada saat kehamilan.2
·         Abortus Spontan. Penting untuk diperhatikan bahwa terdapat risiko defek kongenital (3%) misal: neural tube defect, kelainan jantung, talipes, defek saluran cerna dan abortus (15%) pada trimester pertama. Penelitian pada staf pesawat yang bekerja selama hamil ditemukan abortus spontan pada awal kehamilan. Walaupun demikian, tidak dapat disamakan dengan wanita hamil yang tidak sering melakukan penerbangan saat awal kehamilan.2
·         Motion Sickness. Turbulensi udara saat terbang dapat menyebabkan Motion sickness pada penumpang dan memicu morning sickness pada penumpang yang hamil, khususnya pada trimester awal. Bau dari makanan dapat memicu mual pada beberapa penumpang.2
·         Imobilitas dan Masalah Sirkulasi. Imobilitas yang lama, pada penerbangan jarak jauh, saat individu duduk, mengakibatkan terkumpulnya darah pada tungkai, menyebabkan edema, kaku dan rasa tidak nyaman. Stasis sistem sirkulasi merupakan faktor predisposisi terjadinya trombosis vena, dikenal sebagai sindrom kelas ekonomi.2
Kebanyakan trombus vena tidak menimbulkan gejala dan direabsorpsi tanpa komplikasi. Jika sebuah thrombus terlepas dari tempat perlengketannya dipembuluh darah dan mengikuti aliran darah ke paru (Emboli Pulmonal), thrombosis vena profunda dapat menyebabkan nyeri dada, sesak napas dan kematian. Ini dapat muncul pada bebarapa jam atau hari setelah pembentukan trombus.
Secara umum resiko thrombosis vena profunda sangat kecil. Walaupun demikian, resiko terhadap penumpang hamil meningkat karena perubahan pada system koagulasi.2       
·         Hipoksia. Ketinggian kabin sekitar 8.000 kaki menyebabkan hipoksia ringan. Penumpang hamil yang anemis biasanya mengalami efek hipoksia yang signifikan, janin juga dapat terkena hipoksia karena kurva disosiasi hemoglobin fetus. Pada wanita hamil dengan anemia berat dapat menyebabkan gangguan / distress pada janin.2
·         Barotrauma. Perubahan tekanan kabin dapat menyebabkan ekspansi dan kontraksi dari gas yang terperangkap dalam tubuh, missal di sinus dan rongga telinga tengah. Pada kehamilan, kongesti nasal dan limfatik yang berhubungan dengan retensi cairan dapat menyebabkan obstruksi tuba eustachii dan sinus sehingga terjadi trauma pada membran timpani ataupun struktur – struktur lainnya di telinga.2
·         Radiasi kosmik. Radiasi kosmik berbanding lurus dengan ketinggian. Radiasi pengion dapat menyebabkan kerusakan sel, mutasi genetik dan kanker jika terkena dalam waktu yang lama. Penerbangan seharusnya dihindari, jika mungkin pada tiga bulan pertama kehamilan karena radiasi dalam jumlah kecil pun dapat menyebabkan defek pada janin yang sedang berkembang.3
·         Bising. Terdapat kelebihan frekuensi suara tinggi dan rendah pada kebanyakan kabin pesawat. Baling-baling kecil pesawat biasanya yang paling buruk. Uterus dan cairan amnion dapat melemahkan suara ferekuensi rendah dan sebagian frekuensi tinggi namun tidak melebihi 10 dB. Janin lebih cenderung mengalami kerusakan pendengaran dibanding manusia dewasa akibat paparan tekanan suara yang diberikan.2
·         Persalinan Prematur. Stress saat perjalanan, baik fisik maupun emosional dapat menyebabkan kelahiran prematur. Kurangnya / tidak adanya dokter/spesialis (Isolasi dari Pelayanan Obstetri yang Memadai) di pesawat dan kemungkinan terjadinya komplikasi selama kehamilan dapat memberikan konsekuensi pada ibu dan janin.2

IV.              KESIMPULAN
Penerbangan dalam kehamilan secara umum aman, kebanyakan maskapai penerbangan di dunia mengizinkan perjalanan pada penumpang dengan usia kehamilan sampai 35 atau 36 minggu dengan kehamilan tunggal dan 32 minggu pada gemelli. Kecuali jika ada komplikasi, penerbangan tidak direkomendasikan untuk wanita dengan, hipertensi dalam kehamilan, diabetes mellitus yang tidak terkontrol atau penyakit anemia berat (misal, anemia sel sabit ), risiko persalinan prematur atau dengan kelainan plasenta dan penerbangan saat kehamilan trimester awal memiliki risiko kecil dari efek radiasi kosmik pada janin yang sedang berkembang.2
Terdapat dua rekomendasi dari American College of Obstetrics and Gynaecology (ACOG) yaitu :
·         Wanita hamil yang berisiko mengalami persalinan prematur atau dengan abnormalitas plasenta sebaiknya tidak melakukan penerbangan.
·         Wanita hamil dapat dengan aman melakukan penerbangan sampai usia kehamilan 36 minggu (penerbangan domestik) dan 35 minggu (penerbangan internasional).1
Wanita hamil yang dapat melakukan penerbangan yaitu:
·         Usia kehamilan trimester kedua sampai 35 minggu. Karena pada trimester awal terdapat risiko kelainan kongenital akibat radiasi dan pada usia kehamilan di atas 35 minggu dapat terjadi resiko persalinan prematur.
·         Wanita hamil yang sehat tanpa adanya komplikasi atau kelainan psikis dan organik.


DAFTAR PUSTAKA
1.      Stephenson, Jeffrey C. Air travel and pregnancy – with reference to obstetric and perinatal aeromedical retrieval. In : Journal of Military and Veteran’s Health, Vol. 18 Number 2; April 2010.
2.      Chen, Jeanette Suet Ching. Is It Safe to Fly during Pregnancy?. In : Journal of Chinese Clinical Medicine Vol. 1 No. 6; November 2006.
3.      Barish, Robert J, PhD. In Flight Radiation Exposure During Pregnancy. In : Obstet Gynecol 2004; 103:1326-30.
4.      Alatas, Zubaidah. 2003. Efek Kesehatan Pajanan Radiasi Dosis Rendah. Available at : http:// www.kalbe.co.id/ files/ cdk/ files/ 154_09_ Paparan radiasi dosisrendah. Pdf / 154 _09 _Paparanradiasidosisrendah .html.
5.      Borkenhagen, Rainer H, MD. Pregnancy and Beyond. Part I: Environmental Frontiers. In : CAN. FAM. PHYSICIAN Vol. 34:  March 1988.
6.      Weiss, Robin Elis. 2010. Travel in Pregnancy. Available at : http://pregnancy.about.com/cs/travelduringpreg/.
7.      Anonim. 2010. When Can I Travel by Aeroplane during My Pregnancy. Available at: http://www.medicalnewstoday.com/sections/pregnancy/.
Anonim. 2010. Flying While Pregnant. Available at: http://www.pregnancy-info.net/wellbeing_flying.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar