Jumat, 25 Mei 2012

LUKA BAKAR


PENDAHULUAN   
Luka bakar adalah suatu bentuk kerusakan atau kehilangan jaringan yang disebabkan kontak dengan sumber panas seperti api, air panas, bahan kimia, listrik dan radiasi(1,2,3). Luka bakar merupakan suatu jenis trauma dengan morbiditas dan mortalitas yang tinggi yang memerlukan penatalaksanaan yang khusus sejak awal (fase syok) sampai fase lanjut (1).
            Luka bakar pada dasarnya merupakan fenomena pemindahan panas. Meskipun sumber panasnya dapat bervariasi, akibat akhir yang timbul selalu berupa kerusakan jaringan, paling nyata pada kulit, tetapi pada cedera multisistemik yang nyata dapat menyebabkan gangguan yang serius pada paru-paru, ginjal dan hati. Efek-efek sistemik dan mortalitas akibat cedera luka bakar berhubungan langsung dengan luas dan dalamnya kulit yng terkena. Hampir semua kasus luka bakar disebabkan oleh api atau tersiram air panas. Dengan menentukan sumber panas (misalnya, agen yang menyebabkan luka bakar) akan membantu kita dalam memperkirakan luas dan dalamnya cedera. Perkiraan ini sangat penting dalam merencanakan terapi cairan intravena yang tepat (4).
      
      Dalam kehidupan umumnya, luka-luka bakar dapat di sebabkan oleh (5) :
  1. Kebakaran dalam rumah tangga, misalnya kompor meledak, dan lain-lain.
  2. Kebakaran dalam industri, misalnya pada pengelasan dimana tangki las meledak.
  3. Pada anak-anak dan bayi-bayi akibat tersiram air panas (sclaldig). Di Indonesia dapat ditemukan luka bakar pada bayi karena botol; yang berisi air panas yang diletakkan di selimut bayi tersebut.
Dengan memperhatikan prinsip-prinsip dasar resusitasi pada trauma dan penerapannya pada saat yang tepat, diharapkan akan dapat menurunkan sekecil mungkin angka-angka tersebut di atas. Prinsip-prinsip dasar tersebut meliputi kewaspadaan akan terjadinya gangguan jalan nafas pada penderita yang mengalami trauma inhalasi, mempertahankan hemodinamik dalam batas normal dengan resusitasi cairan, mengetahui dan mengobati penyulit-penyulit yang mungkin terjadi akibat luka bakar tersebut (6).
Penyulit yang timbul pada luka bakar antara lain gagal ginjal akut, edema paru, SIRS (systemic inflammatory response syndrome), infeksi dan sepsis, serta parut hipertrofik dan kontraktur (1,3,7).
  
EPIDEMIOLOGI
            Sekitar 2 juta orang menderita luka bakar di Amerika Serikat, tiap tahun , dengan 100.000 yang di rawat di rumah sakit dan 20.000 yang perlu di rawat dalam pusat-pusat perawatan luka bakar (8).
Insiden puncak luka bakar pada orang dewasa muda terdapat pada umur 20-29 tahun, diikuti oleh anak umur 9 atau lebih muda. Luka bakar jarang terjadi pada umur 80 tahun keatas (8).
            Sekitar 80% luka bakar terjadi di rumah. Pada anak di bawah umur 3 tahun, penyebab luka bakar paling umum adalah kecelakaan jatuh pada kepala. Pada umur 3-14 tahun, penyebab paling tersering adalah nyala api yang membakar baju (8).      

PATOFISIOLOGI   
Permasalahan luka bakar demikian kompleks. Untuk dapat menjelaskannya, maka permasalahan yang ada dipilah menurut fase perjalanan penyakitnya. Terdapat 3 fase dalam luka bakar yaitu (1) :
  1. Fase awal, fase akut, fase syok.
Pada fase ini permasalahan utama berkisar pada gangguan yang terjadi pada saluran nafas (misalnya, cedera inhalasi), gangguan mekanisme bernafas oleh karena adanya eskar melingkar di dada atau trauma multipel di rongga toraks; dan gangguan sirkulasi (keseimbangan cairan-elektrolit, syok hipovolemia) (1,3).
  1. Fase setelah syok berakhir, fase subakut.
Masalah utama pada fase ini adalah Systemic Inflammatory Response Syndrome (SIRS),    dan Multi-system Organ Dysfunction Syndrome (MODS) dan sepsis (1,3). Ketiganya merupakan dampak dan atau perkembangan masalah dari fase pertama (cedera inhalasi, syok) dan masalah yang bermula dari kerusakan jaringan (luka dan sepsis luka).
  
  1. Fase lanjut.
Fase ini berlangsung sejak penutupan luka sampai terjadinya maturasi ringan. Masalah yang di hadapi adalah penyulit dari luka bakar; berupa parut hipertrofik, kontraktur, dan deformitas lain yang terjadi karena kerapuhan jaringan atau struktur tertentu akibat proses inflamasi yang hebat dan berlangsung lama (1,3).
Luka bakar pada tubuh terjadi baik karena konduksi panas langsung atau radiasi elektromagnetik. Derajat luka bakar berhubungan dengan beberapa faktor, termasuk konduksi jaringan yang terkena, waktu kontak dengan sumber tenaga panas dan pigmentasi permukaan. Saraf dan pembuluh darah merupakan struktur yang kurang tahan terhadap konduksi panas, sedang tulang, paling tahan. Jaringan lain memiliki konduksi sedang (8).
            Sel-sel dapat menahan  temperatur sampai 44 0C tanpa kerusakan bermakna. Antara 44 0C dan 51 0C, kecepatan kerusakan jaringan berlipat ganda untuk tiap derajat kenaikan temperature dan waktu penyinaran yang terbatas yang dapat di toleransi. Diatas 51 0C, protein terdenaturasi dan kecepatan kerusakan jaringan yang sangat hebat. Temperatur di atas 70 0C menyebabkan kerusakan selulear yang sangat cepat dan hanya periode penyinaran yang singkat dan dapat di tahan (8).
            Luka bakar terbentuk di beberapa daerah, dimulai dengan daerah koagulasi jaringan pada titik kerusakan maksimal. Di sertai daerah koagulasi terdapat daerah statis yang di tandai dengan aliran darah yang cepat dan terdiri dari sel-sel yang masih dapat di selamatkan. Disekeliling daerah statis terdapat daerah hiperemia. Tempat sel kurang rusak dapat sembuh sempurna (8).
             
Cedera Inhalasi        
            Cedera inhalasi adalah terminologi yang digunakan untuk menjelaskan perubahan mukosa nafas akibat adanya paparan terhadap suatu iritan dan menimbulkan manifestasi klinik dengan gejala distress pernafasan. Reaksi yang timbul akibat paparan terhadap suatu iritan berupa suatu bentuk inflamasi akut dengan edema (1,4)dengan hipersekresi mukosa saluran nafas. Iritan tersebut biasanya berupa produk toksik dari sisa pembakaran yang tidak sempurna (toxic fumes) atau zat kimia lainnya (1).
            Inflamasi akut pada epitel mukosa menyebabkan disrupsi dan maserasi epitel yang nekrosis. Epitel-epitel ini bercampur dengan sekret yang kental oleh karena banyak mengandung fibrin-fibrin menyebabkan obstruksi lumen (mucous plug); menimbulkan distress pernafasan dan kematian dalam waktu cepat (1).

Gangguan mekanisme bernafas
            Adanya eskar melingkar di permukaan rongga toraks menyebabkan gangguan ekspansi rongga toraks pada proses respirasi (terutama inspirasi); hal ini menimbulkan suatu bentuk gangguan compliance paru. Dengan keterbatasan proses ekspansi dinding dada ini, volume inspirasi berkurang sehingga menyebabkan gangguan secara tidak langsung pada proses oxygen exchange (penurunan PaO2)(1).
            Proses yang sama akan terjadi dengan adanya cedera pada rangka rongga toraks, misalnya fraktur tulang-tulang iga yang disebabkan oleh cedera multipel;
sering terjadi pada kasus luka bakar (1).

Gangguan sirkulasi
            Cedera termis menyebabkan proses inflamasi akut yang menimbulkan perubahan permeabilitas kapiler (2,4,8) . Terjadi perubahan bentuk-bentuk sel endotel, dimana sel-sel tersebut membulat (edematous) dengan pembesaran jarak intraselular. Karena terjadi perubahan tekanan hidrostatik dan onkotik di ruang intravaskular, terjadi ekstravasasi cairan intravaskular, plasma (protein), elektrolit dan lekosit ke ruang interstitial. Di jaringan interstitial terjadi penimbunan cairan, menyebabkan keseimbangan tekanan hidrostatik dan onkotik di sana terganggu. Penimbunan cairan interstitial menyebabkan gangguan perfusi dan metabolisme selular (syok jaringan) (1).
            Pada luka bakar ekstensif dengan perubahan permeabilitas kapilar yang hamper menyeluruh, penimbunan cairan masif di jaringan interstitial menyebabkan kondisi hipovolemik (4). Volume cairan intravaskular mengalami deficit, timbul ketidakmampuan menyelenggarakan proses transportasi oksigen ke jaringan. Kondisi ini dikenal dengan terminologi syok (1).
KLASIFIKASI LUKA BAKAR
            Luka bakar di bedakan menjadi beberapa jenis berdasarkan penyebab dan kedalaman kerusakan jaringan; yang perlu dicantumkan dalam diagnosis, yaitu (1) :
a.      Berdasarkan penyebab (1)
Luka bakar dibedakan atas beberapa jenis, antara lain :
-          Luka bakar karena api
-          Luka bakar karena air panas
-          Luka bakar karena bahan kimia
-          Luka bakar karena listrik dan petir
-          Luka bakar karena radiasi
-          Cedera akibat suhu sangat rendah (frost bite)
b.      Berdasarkan kedalaman kerusakan jaringan (1,3,4,6,8,9)
5,Luka bakar dibedakan atas beberapa jenis
1.      Luka bakar derajat I
-          Kerusakan terbatas pada bagian superficial epidermis
-          Kulit kering, hiperemik, berupa eritem.
-          Tidak di jumpai bulla
-          Nyeri karena ujung-ujung saraf sensorik teriritasi
-          Penyembuhan terjadi secara spontan dalam waktu 5-10 hari.
2.      Luka bakar derajat II
-          Kerusakan meliputi epidermis dan sebagian dermis, berupa reaksi inflamasi disertai proses eksudasi.
-          Di jumpai bulla
-          Nyeri karena ujung-ujung saraf sensorik teriritasi
-          Dasar luka berwarna merah pucat, sering terletak lebih tinggi di atas kulit normal
-          Di bedakan atas 2 ( dua) :
a.       Derajat II dangkal (superfisial)
-          Kerusakan mengenai bagian superficial dari dermis
-          Organ-organ kulit seperti folikel rambut, kelenjar keringat, kelenjar sebasea masih utuh.
-          Penyembuhan terjadi secara spontan dalam waktu 10-14 hari.
b.      Derajat II dalam ( deep)
-     Kerusakan mengenai hamper seluruh bagian dermis
-  Organ-organ kulit seperti folikel rambut, kelenjar keringat, kelenjar sebasea sebagian besar masih utuh.
-     Penyembuhan terjadi lebih lama, tergantung epitel yang tersisa. Biasanya penyembuhan terjadi dalam waktu lebih dari satu bulan.
3.  Luka bakar derajat III
-          Kerusakan meliputi seluruh tebal dermis dan lapisan yang lebih dalam
-          Organ-organ kulit seperti folikel rambut, kelenjar keringat, kelenjar sebasea mengalami kerusakan.
-          Tidak dijumpai bulla
-          Kulit yang  terbakar berwarna abu-abu dan pucat, karena kering, letaknya lebih rendah dibandingkan kulit sekitar.
-          Terjadi koagulasi protein pada epidermis dan dermis yang dikenal sebagai eskar.
-          Tidak dijumpai rasa nyeri dan hilang sensasi, oleh karena ujung-ujung saraf sensorik mengalami kerusakan dan kematian.
-          Penyembuhan terjadi lama karena tidak ada proses epitelisasi spontan dari dasar luka.

LUAS LUKA BAKAR
Walaupun hanya perkiraan saja, the rule of nines, tetap merupakan petunjuk yang baik dalam merupakan petunjuk yang baik dalam menilai luasnya luka bakar : kepala, 7 persen, dan leher, 2 persen, sehingga total 9 persen; setiap ekstremitas atas, 9 persen; badan bagian anterior, 2 x 9 atau 18 persen; badan bagian posterior, 13 persen, dan bokong, 5 persen, sehingga total 18 persen; setiap ekstremitas bawah, 2 x 9 atau 18 persen; dan genitalia, 1 persen (1,2,3,4,5,7,9).
Pada anak-anak terdapat perbedaan dalam luas permukaan tubuh relatif, yang umumnya mempunyai perimbangan lebih besar antara luas permukaan  kepala dengan luas ekstremitas bawah dibandingkan dengan orang dewasa. Area kepala luasnya adalah 19 persen pada waktu lahir ( 10 persen lebih besar daripada orang dewasa); hal ini terjadi akibat pengurangan pada luas ekstremitas bawah, yang masing-masing sebesar 13 persen. Dengan bertambahnya usia setiap tahun sampai usia 10 tahun, area kepala dikurangi 1 persen dan dalam jumlah yang sama di tambah pada ekstremitas bawah. Setelah usia 10 tahun, di gunakan persentase dewasa. Luas luka bakar yang mungkin bersifat letal pada 50 persen dari mereka yang cedera (LA50) adalah 60 persen pada populasi dewasa muda, 50 persen pada anak-anak, dan 35 persen pada orang tua (lebih dari 40 tahun) (4).
`
KLASIFIKASI LUKA BAKAR (1,3)
  1. Berat/kritis bila :
    • Derajat 2 dengan luas lebih dari 25 %
    • Derajat 3 dengan luas lebih dari 10 %, atau terdapat di muka, kaki, dan tangan
    • Luka bakar di sertai trauma jalan nafas atau jaringan lunak luas, atau fraktur
    • Luka bakar listrik
  1. Sedang bila :
    • Derajat 2 dengan luas 15 -25 %
    • Derajat 3 dengan luas kurang dari 10%, kecuali muka, tangan, dan kaki.
  2. Ringan bila :
    • Derajat 2 dengan luas kurang dari 15 %
    • Derajat 3 kurang dari 2 % 
KRITERIA MASUK RUMAH SAKIT (4)
  1. Setiap kecurigaan adanya cedera saluran nafas (riwayat luka bakar karena api, terutama yang terjadi di dalam ruangan (indoor), inhalasi sap, batuk, perubahan suara, atau kesulitan bernafas.
  2. Timbulnya tanda-tanda serebral ( kebingungan, disorientasi, hilang kesadaran biasanya disebabkan oleh hipoksia).
  3. Setiap luka bakar superficial dimana luas permukaan tubuh yang terkena lebih dari 10 %.
  4. Setiap luka bakar yang dalam (deep burn) dimana luas permukaan tubuh yang terkena lebih dari 3 %.
  5.  Setiap luka bakar pada bagian tubuh yang vital (luka bakar pada tempat yang dapat menimbulkan rasa nyeri yang hebat, hilangnya kemampuan untuk merawat diri sendiri, atau kecacatan berat yang mengancam seperti kasus-kasus dimana terjadi kerusakan pada mata, telinga, wajah scara keseluruhan, tangan, kaki, atau genitalia).
  6.  Usia yang ekstrim (sangat muda, dibawah usia 2 tahun; setiap anak dengan luka bakar yang keadaan cederanya tidak jelas dan dapat menunjukkan adanya tindak kekerasan pada anak (child abuse); dan orang tua, diatas 60 tahun).
  7. Cedera penyerta seperti fraktur, laserasi yang luas, atau trauma tumpul pada dada atau abdomen.
PENATALAKSANAAN (1,2,3,4,5,6,7,8,10)       
Prinsip penanganan luka bakar adalah penutupan lesi sesegera mungkin, pencegahan infeksi, mengurangi rasa sakit, pencegahan trauma mekanik pada kulit yang vital dan elemen di dalamnya, dan pembatasan pembentukan jaringan parut.
            Pada saat kejadian, hal pertama yang harus di lakukan adalah menjatuhkan korban dari sumber trauma. Padamkan api dan siram kulit yang panas dengan air. Proses koagulasi protein sel di jaringan yang terpajan suhu tinggi berlangsung terus, walau api telah di padamkan, sehingga destruksi tetapi meluas. Proses tersebut dapat di hentikan dengan mendinginkan daerah yang terbakar dan mempertahankan suhu dingin pada jam pertama.
Tindakan selanjutnya adalah sebagai berikut :
  1. Lakukan resusitasi dengan memberikan jalan nafas, pernafasan dan sirkulasi, yaitu:
§  Periksa jalan nafas
§  Bila dijumpai obstruksi jalan nafas, buka jalan nafas dengan pembersihan jalan nafas ( suction, dsb ), bila perlu lakuan trakeostomi atau intubasi.
§  Berikan oksigen
§  Pasang iv line untuk rsusitasi cairan, berikan cairan RL untuk mengatasi syok.
§  Pasang kateter buli-buli untuk pemantauan diuresis
§  Pasang pipa lambung untuk mengosongkan lambung selama ada ileus paralitik
§  Pasang pemantau tekanan vena sentral (CVP), untuk pemantauan sirkulasi darah, pada luka bakar ekstensif (>40%)
  1. Periksa cedera yang terjadi di seluruh tubuh secara sistematis untu menentukan adanya cedera inhalasi, luas dan derajat luka bakar. Dengan demikian jumlah dan jenis cairan yang diperlukan untuk resusitasi dapat di tentukan. Dua cara yang lazim di gunakan untuk menghitung kebutuhan cairan pada penderita luka bakar, yaitu:
1.      Cara Evans. Untuk menghitung kebutuhan cairan pada hari pertama hitunglah :
1.      Berat badan (kg) x % luka bakar x 1 cc NaCl (1)
2.      Berat Badan (kg) x luka bakar x 1 cc larutan koloid (2)
3.      2000 cc glukosa 5% (3)
Separuh dari jumlah (1),(2), dan (3) diberikan dalam 8 jam pertama dan sisanya diberikan dalam 16 jam berikutnya. Pada hari kedua diberikan setengah jumlah cairan hari kedua. Sebagai monitoring pemberian cairan dilakukan perhitungan diuresis.
2.      Cara Baxter. Merupakan cara lain yang lebih sederhana dan banyak dipakai. Jumlah kebutuhan cairan pada hari pertama dihitung dengan rumus = % luka bakar x BB (kg) x 4 cc. Separuh dari jumlah cairan ini diberikan dalam 8 jam pertama, sisanya diberikan dalam 16 jam. Hari pertama terutama diberikan elektrolit yaitu larutan Ringer laktat karena terjadi hiponatremi. Untuk hari kedua diberikan setengah dari jumlah pemberian hari pertama.
3.   Berikan analgetik. Analgetik yang efektif adalah morfin atau petidin, diberikan secara intravena. Hati-hati dengan pemberian intramuscular karea dengan sirkulasi yang terganggu akan terjadi penimbunan di otot.
4.   Lakukan pencucian luka setelah sirkulasi stabil. Pencucian luka dilakukan dengan debridement dan memandikan pasien dengan menggunakan cairan steril dalam bak khusus yang mengandung larutan antiseptik. Antiseptik lokal yang dapat dipakai yaitu Betadineâ atau nitras argenti 0,5%.
5.   Berikan antiseptik topikal pasca pencucian luka degan tujuan untuk mencegah dan mengatasi infeksi yang terjadi pada luka. Bentuk krim lebih bermanfaat daripada bentuk salep atau ointment. Yng dapat digunakan adalah silver nitrate 0,5%, mafenide acetate 10%, silver sulfadiazine 1%, atau gentamisin sulfat.
6.   Balut luka dengan menggunakan kasa gulung kering dan steril.
7.   Berikan serum antitetanus/toksoid yaitu ATS 3000 unit pada orang dewasa dan separuhnya pada anak-anak.
           
LUKA BAKAR KHUSUS (3,7)   
A.  Luka Bakar Karena Bahan Kimia/Kimiawi
            Luka bakar dapat disebabkan oleh asam alkali , dan hasil-hasil pengolahan minyak. Luka bakar alkali lebih berbahaya dari asam, sebab alkali lebih dalam merusak jaringan. Segeralah bersihkan bahan kimia tersebut dari luka bakar Kerusakan jaringan akibat luka bakar bahan kimia dipengaruhi oleh lamanya kontak, konsentrasi bahan kimia dan jumlahnya. Segera lakukan irigasi sebanyak-banyaknya, bila mungkin gunakan penyemprot air. Lakukan tindakan ini dalam waktu 20 – 30 menit. Untuk luka bakar alkali, di perlukan waktu yang lebih lama. Bila bahan kimia merupakan bubuk, sikatlah terlebih dahulu sebelum irigasi.
            Jangan memberikan bahan-bahan penetral (neutralizing agent) sebab reaksi kimiawi yang terjadi akibat pemberian bahan penetral dapat memperberat kerusakan yang terjadi. Untuk luka bakar pada mata, memerlukan irigasi terus-menerus selama 8 jam pertama setelah luka bakar. Untuk irigasi ini dapat digunakan kanula kecil yang di pasang pada sulkus palpebra.

B. Luka Bakar Listrik
            Luka bakar listrik terjasi karena tubuh terkena aliran listrik. Luka bakar listrik sering menyebabkan kerusakan jaringan yang lebih berat daripada luka bakar yang terlihat pada permukaannya.
            Penanganan harus segera dilakukan meliputi perhatian pada jalan nafas, pernafasan, pemasangan infus, ECG,dan pemasangan kateter. Apabila urine berwarna gelap, mungkin urine mengandung hemokhromogens. Janganlah menunggu konfirmasi laboratorium untuk melakukan terapi terhadap mioglobinuria. Pemberian cairan ditingkatkan sedemikian rupa sehingga tercapai produksi urine sekurang-kurangnya 100 cc/jam (dewasa). Bila urine belum tampak jernih, berikan segera 25 gr manitol dan tambahkan 12,5 gr manitol pada tiap penambahan 1 liter cairan untuk mempertahankan diuresis sejumlah tersebut di atas. Bila terjadi asidosis metabolik, pertahankan perfusi sebaik mungkin dan berikan Natrium bikarbonat untuk memberikan urine menjadi alkalis dan meningkatkan kelarutan mioglobin dalam urine.
PERAWATAN (3)    
1.          Nutrisi yang di berikan cukup menutupi kebutuhan kalori dan keseimbangan nitrogen yang negatif pada fase katabolisme, yaitu sebanyak 2500-3000 kalori sehari dengan kadar protein tinggi.
2.          Perawatan lokal dapat secara terbuka atau tertutup.
3.        Antibiotik topikal diganti satu kali dalam satu hari, didahului hidroterapi untuk mengangkat sisa-sisa krim antibiotik sebelumnya. Bila kondisi luka sangat kotor atau di jumpai banyak krusta dan atau eksudat, pemberian dapat diulang sampai dengan 2 – 3 kali sehari.
4.          Rehabilitasi termasuk latihan pernafasan dan pergerakan otot dan sendi.
5.          Usahakan tak ada gangguan dalam penyembuhan; penyembuhan bisa dicapai secepatnya dengan :
         -          Perawatan luka bakar yang baik.
        -          Penilaian segera daerah-daerah luka bakar derajat 3 atau 2 dalam. Kalau memungkinkan buang kulit yang non vital dan menambalnya secepat mungkin.

6.          Usahakan mempertahankan fungsi sendi-sendi. Latihan gerakan atau bidai dalam posisi baik
7.       Aturlah proses maturasi sehingga tercapai tanpa ada proses kontraksi yang akan mengganggu fungsi. Bilamana luka bakar sembuh persekundam dalam 3 minggu atau lebih selalu ada timbul kemungkinan timbul parut hipertrofi dan kemungkinan kontraktur pada waktu proses maturasi. Sebaiknya di pasang perban ½ menekan, bidai yang sesuai dan anjuran untuk mengurangi edema dengan elevasi daerah yang bersangkutan.
8.        Antibiotik sistemik spectrum luas diberikan untuk mencegah infeksi. Infeksi dapat memperburuk derajat luka bakar dan mempersulit penyembuhan. Yang banyak dipakai adalah golongan aminoglikosida yang efektif terhadap pseudomonas.
9.        Suplementasi vitamin dapat diberikan yaitu vitamin A 10.000 unit per minggu, vitamin C 500 mg dan sulfas ferosus 500 mg.
TINDAKAN BEDAH (2,11)
        Eskarotomi juga dilakukan juga pada luka bakar derajat III yang melingkar padaekstremitas atau tubuh. Hal ini dilakukan untuk sirkulasi bagian distal akibat pengerutan dan penjepitan dari esker. Tanda dini penjepitan berupa nyeri, kemudian kehilangan daya rasa menjadi kebal pada ujung-ujung distal. Tindakan yang dilakukan yaitu membuat irisan irisan memanjang yang membuka esker sampai penjepitan bebas.
        Debridemen di usahakan sedini mungkin untuk membuang jaringan mati dengan jalan eksisi tangensial.
PROGNOSIS (3,5)
        Prognosis dan penanganan derajat luka bakar terutama tergantung pada dalam dan luasnya permukaan luka bakar; dan penanganan sejak awal hingga penyembuhan. Selain itu faktor letak daerah yang terbakar, usia, dan keadaan kesehatan penderita juga turut menentukan kecepatan penyembuhan. Luka bakar pada daerah perineum, ketiak, leher, dan tangan sulit dalam perawatannya, antara lain karena mudah mengalami kontraktur.
DAFTAR PUSTAKA.
           

1.   Moenajat Y, Luka Bakar, pengetahuan klinik praktis , Edisi 2, FK- UI, Jakarta:  2003

2.   Munster A, Luka Bakar, dalam Cameron J : Terapi Bedah Mutakhir, Edisi 4, jilid dua, BinaRupa Aksara, Jakarta :1997

3.   Mansjoer A, Trijanti K, Luka Bakar , dalam Kapita Selekta Kedokteran, edisi 3, Jilid 2, Media Eusculapius, FK-UI : 2000

4.      Catatan Kuliah Ilmu Bedah  : Combustio/Luka Bakar, Aksara Medisina, Jakarta : 1987

5.      Ikatan Ahli Bedah Indonesia (IKABI),  Advanced Trauma Live Support â (ATLS) untuk Dokter, Edisi 6, American College of Surgeons : 1997

6.     Georgiade G, Pedersen C, Luka Bakar, dalam Sabitson D : Buku Ajar Bedah (Essentials of Surgery), Bagian I, Cetakan II, EGC, Jakarta :1995

7.   Wang M, Macomber W, Burns, dalam Ecked C : Emergency-Room Care, Second Edition, Little, Brown and Company, Boston : 1971.

8.  Gibran N, Heimbach D, Management of the patient with thermal injuries, Available from www. Google.com : 2004

9.      Klein M, Gibran N, Heimbach D, Management of the Burn Wound, Available from www. Google.com : 2004




Tidak ada komentar:

Posting Komentar