Rabu, 23 Mei 2012

Kontrasepsi Darurat



I.                   KONTRASEPSI SECARA UMUM
Kontrasepsi  ialah usaha-usaha untuk mencegah terjadinya kehamilan. Usaha-usaha itu dapat bersifat sementara, dapat juga bersifat permanen. Sampai sekarang cara kontrasepsi yang ideal belum ada. Kontrasepsi ideal itu harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : 1) dapat dipercaya; 2) tidak menimbulkan efek yang mengganggu kesehatan; 3) daya kerjanya dapat diatur menurut kebutuhan; 4) tidak menimbulkan gangguan sewaktu melakukan koitus; 5) memerlukan motivasi terus-menerus; 6) mudah pelaksanaannya; 7) murah harganya sehingga dapat dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat; 8) dapat diterima penggunaannya oleh pasangan yang bersangkutan. 1,2

A.    Akseptabilitas
Akseptabilitas suatu cara kontrasepsi ditentukan oleh beberapa faktor, antara lain 1) dapat dipercaya; 2) tidak ada efek samping atau hanya ada efek samping ringan; 3) tidak mempengaruhi koitus; 4) mudah penggunaannya; 5) harga obat/alat kontrasepsi terjangkau. Akseptabilitas ini terbukti apabila pasangan tetap menggunakan cara kontrasepsi yang bersangkutan, dan baru berhenti jika pasangan ingin mendapat anak lagi, atau jika kehamilan tidak akan terjadi lagi karena umur wanita sudah lanjut atau oleh karena ia telah menjalani tubektomi atau bilamana suaminya telah divasektomi. 1

B.     Efektivitas (daya guna)
            Pada tahun 1930-an Raymod Pearl membuat suatu rumus untuk menilai efektivitas suatu cara kontrasepsi. Rumus tersebut sebagai berikut :

Indeks Pearl per 100 tahun-wanita = (jumlah keseluruhan kehamilan/jumlah bulan menjalankan koitus) x 1200

Contoh : 600 akseptor menggunakan suatu cara kontrasepsi selama 12 bulan.
Dalam masa ini terjadi 16 kehamilan yang tidak diingini.

{16/(600x12)} x 1200 = 2 per 100 tahun - wanita

Indeks Pearl ada kelemahannya karena didasarkan atas anggapan bahwa setiap akseptor mempunyai fekunditas dan fertilitas yang homogen, sehingga 100 akseptor yang diobservasi untuk 2 tahun dapat disamakan dengan 200 akseptor dengan masa observasi 1 tahun. Dalam praktek anggapan ini tidak benar, oleh sebab itu untuk membandingkan efektivitas secara statistik dari berbagai cara kontrasepsi dengan bulan-bulan eksposisi (terhadap kehamilan) yang berbeda-beda, oleh Tietze digunakan life table technique. 1
            Efektivitas (daya guna) suatu cara kontrasepsi dapat dinilai pada 2 tingkat, yakni: 1
1.      Daya guna teoritis (theoretical effectiveness), yaitu kemampuan suatu cara kontrasepsi untuk mengurangi terjadinya kehamilan yang tidak diingini, apabila cara tersebut digunakan terus-menerus dan sesuai dengan petunjuk yang diberikan.
2.      Daya guna pemakaian (use effectiveness), yaitu kemampuan suatu cara kontrasepsi dalam keadaan sehari-hari dimana pemakaiannya dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti pemakai tidak hati-hati, kurang taat pada peraturan, dan sebagainya.

II.                KONTRASEPSI DARURAT (KONDAR)
Seyogyanya setiap kehamilan merupakan kehamilan yang direncanakan. Kehamilan yang tidak direncanakan setelah melalui berbagai pertimbangan selanjutnya dapat menjadi kehamilan yang diterima atau kehamilan yang tidak dikehendaki. Pertimbangan tersebut antara lain meliputi aspek kesehatan, ekonomi, sosial dan agama. 3
Dari aspek kesehatan dipertimbangkan kesehatan ibu secara keseluruhan, riwayat kehamilan dan persalinan terakhir, umur dan kesehatan anak terkecil. Dari aspek ekonomi dipertimbangkan antara lain penghasilan suami/istri, apakah masih bergantung kepada orang tua, ikatan dinas dan peraturan perusahaan tempat bekerja. Sedangkan dari aspek sosial dipertimbangkan masalah sekolah dan pekerjaan. Dari aspek agama dipertimbangkan tentang status pernikahan dan penerimaan kehamilan tersebut. 3
Bila kehamilan tersebut berdasarkan pertimbangan-pertimbangan di atas dapat diterima, maka kehamilan tersebut dapat dipertahankan seperti kehamilan yang direncanakan. Namun bila kehamilan tersebut tidak diterima atau tidak dikehendaki maka selanjutnya akan timbul upaya melakukan abortus (pengguguran kandungan) baik secara aman maupun tidak aman ("unsafe"). Diperkirakan sekitar 2/3 dari kehamilan yang tidak dikehendaki berakhir dengan abortus. 3
Sejalan dengan strategi "Making Pregnancy Safer (MPS)" harus dilakukan upaya pencegahan kehamilan yang tidak diinginkan. Semua kehamilan yang tidak diinginkan dapat dicegah seandainya pasangan menggunakan alat pelindung berupa kontrasepsi. salah satu yang akan diperkenalkan disini adalah Kontrasepsi Darurat (KONDAR). 3
Yang dimaksud Kontrasepsi Darurat adalah kontrasepsi yang dapat mencegah kehamilan bila digunakan setelah hubungan seksual. Atau sering juga disebut "Kontrasepsi Pasca senggama" atau "Morning after pills" atau "Morning after treatment". Pada awalnya istilah "Kontrasepsi sekunder atau Kontrasepsi darurat" adalah untuk menepis anggapan bahwa obat tersebut harus segera dipakai/digunakan setelah melakukan hubungan seksual atau harus menunggu hingga keesokan harinya, dan bila tidak, berarti sudah terlambat sehingga pasangan tersebut tidak dapat berbuat apa apa lagi. Sebutan kontrasepsi darurat  untuk menekankan bahwa jenis kontrasepsi ini digunakan pada keadaan dan masa yang tidak boleh ditunda, juga mengisyaratkan  bahwa cara KB ini lebih baik daripada tidak memakai metode KB sama sekali. Tetapi sebenarnya cara ini tetap kurang efektif dibandingkan dengan cara KB lain yang sudah ada. 3,4,5
            Tingginya angka aborsi membuat Ahli Keluarga Berencana, Profesor Anna Glasier ingin menjernihkan kegunaan pil kontrasepsi darurat di kalangan perempuan. Seperti dikutip dalam British Medical Journal, kalangan perempuan di Inggris sepertinya salah mengerti akan kegunaan pil kontrasepsi darurat ini. Pil yang sudah diproduksi lima tahun lalu, dibuat untuk mencegah kehamilan dan bukan untuk aborsi. Prof. Glasier menjelaskan, masyarakat selama ini salah dalam cara mengonsumsi pil tersebut. Pil yang hanya efektif selama 72 jam ini seharusnya dikonsumsi sebelum dan selama melakukan hubungan intim dengan maksud mencegah terjadinya pembuahan setelah hubungan intim. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, terlihat para perempuan justru tidak menggunakan pil kontrasepsi pada waktu yang tepat karena mereka sering bingung menentukan waktu yang tepat mengonsumsi pil tersebut. "Jika kita ingin menurunkan angka aborsi, jawabannya bukan pada pil kontrasepsi darurat tetapi bagaimana mendorong para perempuan untuk mengonsumsi pil sebelum dan selama berhubungan intim dan bukan setelahnya," ujar Prof. Anna Glasier.  6,7     
            Pendapat yang sama juga dikemukakan oleh mantan pengurus Asosiasi Keluarga Berencana, Toni Belfield. "Pil kontrasepsi darurat ini tidak sama dengan pil kontrasepsi biasanya. Pil ini juga bukan pengganti dari pil kontrasepsi yang seharusnya. Dan sejak awal memang tidak pernah menjadi obat mujarab untuk aborsi," ujarnya menegaskan. Juru bicara Departemen Kesehatan juga mengatakan ada salah pengertian dalam masyarakat mengenai kegunaan pil kontrasepsi darurat ini. Pemerintah Inggris tidak pernah mengatakan bahwa pil ini adalah jawaban untuk menghentikan meningkatnya angka aborsi di Inggris. "Kebijakan kami selalu mengutamakan seks yang aman dengan menggunakan alat kontrasepsi yang bisa diandalkan agar dapat melindungi perempuan dari kehamilan yang tidak diinginkan," ungkap juru bicara tersebut.6
            Di seluruh dunia, per tahunnya sekitar 75 juta perempuan mengalami kehamilan yang tak diinginkan (KTD). Sekitar setengahnya kemudian akan berakhir dengan aborsi yang kebanyakan adalah aborsi tidak aman. Diperkirakan, setengah dari jumlah KTD yang terjadi setiap tahun dapat dicegah dengan penyebarluasan akses kepada dan pemakaian kontrasepsi darurat. Dengan demikian kontrasepsi darurat akan membantu mencegah kebutuhan untuk aborsi, walaupun kontrasepsi darurat sendiri bukan suatu cara untuk aborsi. Kontrasepsi darurat merupakan pelindung yang penting jika kontrasepsi pil rutin gagal; jika kondom robek, terselip atau lepas atau IUD terlepas; jika sebuah metode kontrasepsi dipakai dengan cara yang salah; atau pada hubungan seksual yang tidak direncanakan. Di seluruh dunia, salah satu dari penggunaan penting kontrasepsi darurat adalah pada kasus-kasus kekerasan seksual. 8
            Kita masih akan terus berhadapan dengan masalah kependudukan. Penerapan cara-cara kontrasepsi untuk mengatasinya, masih terus dikembangkan. Dan salah satunya yang perlu mendapat perhatian adalah peran Kontrasepsi Darurat (KONDAR). 3
    WHO memperkirakan bahwa setiap tahun 200.000 wanita meninggal akibat terminasi kehamilan yang tidak diinginkan akibat suatu praktek  aborsi yang tidak aman "Unsafe abortion". Banyak dari mereka yang dapat diselamatkan apabila kondar lebih banyak diketahui dan disediakan untuk masyarakat. Metode KB pasca senggama yang digunakan sekarang ini, yang dinamakan Metode Yuzpe menggunakan teknologi yang telah dilakukan sejak 30 tahun lalu, sayangnya sangat sedikit pelayanan KB yang menerapkannya untuk keselamatan jiwa (Live saving) bagi wanita. Apabila program-program KB cukup serius dalam mencegah daripada mengakhiri kehamilan yang tidak diinginkan, mereka harus menerapkan metode kondar. 9,10

III.             FISIOLOGI REPRODUKSI
            Untuk memahami bagaimana kontrasepsi darurat bekerja, Anda harus tahu apa yang terjadi selama reproduksi. Seorang wanita memiliki dua ovarium, satu di setiap sisi rahim. Setiap bulan, salah satu ovarium melepaskan ovum ke dalam tuba fallopi.. Ini disebut ovulasi. Ini biasanya terjadi sekitar 12-14 hari sebelum dimulainya periode menstruasi. Seorang wanita bisa hamil jika ia berhubungan seks sekitar waktu ovulasi. Saat berhubungan seks, pria itu berejakulasi dan sperma masuk ke dalam vagina menyusuri melalui leher rahim dan masuk ke dalam tuba fallopi. Jika sperma bertemu dengan ovum di tuba fallopi, penyatuan ovum dan sperma dapat terjadi dan dapat terjadi fertilisasi. Ovum kemudian bergerak ke tuba selanjutnya masuk ke dalam rahim. Kemudian menempel pada rahim dan tumbuh menjadi janin.  11

Gambar 1 : Proses Reproduksi   11
IV.             MANFAAT KONDAR
            Manfaat dari penggunaan kontrasepsi darurat antara lain : 3,11
1.      Mencegah kehamilan yang tidak diinginkan
2.      Mendukung hak perempuan untuk mengatur reproduksinya sendiri
3.      Mendukung kesehatan reproduksi perempuan :
·         Memberi waktu pemulihan yang sempurna bagi organ reproduksi
·         Frekuensi kehamilan dapat diatur sesuai kondisi kesehatan fisik dan psikososial
·         Risiko aborsi dapat di hindarkan
4.      Bukan sebagai pil penggugur kandungan
5.      Cara kerja Kondar adalah “fisiologis”, sehingga tidak mempengaruhi kesuburan dan siklus haid yang akan datang
6.      Efek samping ringan dan berlangsung singkat
7.      Tidak ada pengaruh buruk di kemudian hari pada organ sistem reproduksi dan organ tubuh lainnya.

V.                INDIKASI DAN KONTRAINDIKASI KONTRASEPSI DARURAT
-          Indikasi Kontrasepsi darurat adalah untuk mencegah kehamilan yang tidak dikehendaki akibat : 9,12,13
1.      Kesalahan dalam pemakaian kontrasepsi, seperti :
-          Kondom bocor, lepas atau salah penggunaannya
-          Diaphragma pecah atau robek atau dilepas terlalu cepat
-          Kegagalan sanggama terputus
-          Salah hitung masa subur
-          Alat kontrasepsi dalam rahim (Spiral/IUD) ekspulsi
-          Lupa minum pil KB lebih dari 2 hari berturut-turut
-          Terlambat lebih dari 1 minggu untuk suntik KB 1 bulan.
-          Terlambat lebih dari 2 minggu untuk suntik KB 3 bulan.
2.      Wanita korban perkosaan kurang dari 72 jam
3.      Tidak menggunakan kontrasepsi, baik karena alasan medis maupun belum bersedia, tetapi ingin mencegah kehamilan.
4.      Wanita yang tidak sedang memakai kontrasepsi apapun, karena tugas suaminya yang sering  bepergian dalam jangka waktu lama
-          Kontraindikasi Kontrasepsi darurat : Wanita Hamil atau  disangka hamil

VI.             JENIS KONTRASEPSI DARURAT (KONDAR)
            Ada 2 macam Kondar yaitu : 3, 9,10,11, 12, 14
1.      Mekanik
      Satu-satunya Kondar mekanik adalah IUD yang mengandung tembaga (misalnya: CuT 380A). Jika dipasang dalam waktu "kurang dari 7 hari" setelah senggama, cara ini mampu mencegah kehamilan.dan selanjutnya dapat dipakai terus untuk mencegah kehamilan hingga 10 tahun lamanya, atau sesuai waktu yang dikehendakinya. Hanya saja harganya lebih mahal dan sebaiknya dipasang oleh ahlinya (dokter umum, atau dokter spesialis kebidanan atau bidan)
Cara kerja :
Ø  Mencegah fertilisasi (pertemuan sel sperma dan sel telur)
Ø  Mencegah tertanamnya hasil pembuahan pada endometrium (selaput dinding rahim)
Kegagalan : < 0,1%
Kontra indikasi :
-          Hamil atau diduga hamil
-          Infeksi Menular Seksual (IMS)
Cara pemberian : 1 kali pemasangan dalam waktu <7 hari pasca senggama

2.      Medik
    Paling sedikit ada 5 cara pemberian Kondar yang telah diteliti secara luas. Masing-masing bersifat hormonal dan saat ini diterapkan secara oral. Sekalipun pemberian pervaginal dalam tahap penelitian, namun  kepustakaan yang telah dipublikasikan masih terbatas pada pemberian per oral.
      Lima cara tersebut adalah : Pil KB Kombinasi (mis: Microgynon), Pil Progestin (mis : Postinor-2), Pil Estrogen (mis: Premarin), Mifepristone (mis : RU-486), Danazol (mis : Danocrine)
Cara kerja :
Ø  Merubah endometrium sehingga tidak memungkinkan implantasi hasil pembuahan
Ø  Mencegah ovulasi / menunda ovulasi
Ø  Mengganggu pergerakan saluran telur (tuba fallopi)
Cara pemberian :
Ø  Pil kombinasi : 2x4 tablet dalam waktu 3 hari pasca senggama, (dosis  pertama 1x4 tablet diulang 1x4 tablet 12 jam kemudian setelah dosis Pertama).
Ø  Pil Progestin :  2x1 tablet dalam waktu 3 hari pasca senggama, (dosis pertama 1 tablet, diulang 1 tablet kedua 12 jam sesudah tablet pertama)
Ø  Pil Estrogen :  2x10 mg dalam waktu 3 hari pasca senggama selama 5 hari
Ø  Mifepristone :  1x600 mg dalam waktu 3 hari pasca seenggama
Ø  Pil Danazol  :   2x4 tablet dalam waktu 3 hari pasca senggama, (dosis pertama 1x4 tablet diulang 1x4 tablet 12 jam kemudian setelah dosis Pertama).
Efek samping :
      Efek samping yang mungkin timbul adalah rasa mual, sakit kepala, pusing, muntah atau payudara tegang. Ini diakibatkan karena pil Kondar mengandung hormon dosis tinggi. Pada umumnya efek samping berlangsung tidak lebih dari 24 jam.

VII.          TINGKAT KEAMANAN PENGGUNAAN KONTRASEPSI DARURAT
            Saat ini belum ada penelitian yang membuktikan terjadinya thrombosis seperti stroke atau emboli paru pada pemakaian kontrasepsi darurat. Tetapi sebaliknya, tidak juga ada penelitian yang membuktikan keamanannya 100%. Hanya saja, selama ini belum pernah ada kasus yang dilaporkan setelah pemakaian kontrasepsi darurat, jadi pilihan ini termasuk aman. Efek samping yang timbul pada pemakaian kontrasepsi darurat jenis pil hormonal adalah mual dan muntah. Hal ini dapat diatasi dengan pemberian anti mual dan anti muntah sebelum meminum pil atau memilih pil yang hanya mengandung progesterone saja. Efek samping lainnya adalah bercak-bercak darah (spotting atau haid yang datang seminggu lebih cepat atau seminggu lebih lambat ada bulan berikutnya. 12

VIII.       ANGKA KEBERHASILAN PENGGUNAAN KONTRASEPSI DARURAT
            Bila tidak mendapatkan haid pada bulan berikutnya setelah pemakaian kontrasepsi darurat, sebaiknya anda curiga terjadi kehamilan dan segera ke dokter untuk membuktikannya. Walaupun angka keberhasilan kontrasepsi darurat dalam mencegah kehamilan tinggi, sangatlah tidak dianjurkan untuk memakai kontrasepsi ini jangka waktu yang lama. Bila anda menginginkan hubungan seksual yang aman, maka pilihan terbaik adalah penggunaan metode kontrasepsi lainnya yang sudah tersedia saat ini. 12

DAFTAR PUSTAKA

1.      Wiknjosastro H. Kontrasepsi. Ilmu Kandungan. Edisi kedua. 2007. Yayasan bina pustaka sarwono prawirohardjo:Jakarta. Hal. 534-535.
2.      Surinah. Kontrasepsi. [Cited 2005/04/25]. Available: http://www.infoibu.com
3.      Tahir AM. Kontrasepsi Darurat (Kondar). [Cited 2007]. Available: http://www.obgynunhas.com
4.      Norton  M. Public-Private Partnership Toincrease Contraceptive Choice With Socialization And Training Of Health Professional In The Use Of Emergency Contraception Pills. [Cited 2010:1-30/51]. Available : http://www.kbberkualitas.or.id.
5.       Anonymous. Emergency Contraception. [Cited 2011]. Available: http://www.wikipedia.com
6.      Anonymous. Pil Kontrasepsi Bukan Untuk Aborsi. [Cited 2011]. Available: http://www.connectique.com
7.      DeChemey HA, Nathan L. Postcoital Or Emergency Contraception. Current Obstetrics & Gynaecology Diagnosis & Treatment. 9th Edition. 2003. McGray-Hill Companies:New York. P. 390
8.      Handra. Kontrasepsi Darurat Atau Emergency Contraception. [Cited 2010]. Available: http://www.buletinaku.com
9.      Anonymous. Emergency Contraception. [Cited 2011]. Available: http://www.worldhealthorganization.com
10.   Cunningham FG, Leveno KJ, et al. Contraception. Williams Obstetrics. 22th  Edition. 2005. McGrawHill:New York. P. 408-421
11.  Rosewood. Emergency Contraception. [Cited 2011]. Available: http://www.AmericanCollegeofObstetriciansandGynecologists.com
12.  Suci HK. Kontrasepsi Darurat. [Cited 2009]. Available: http://www.ekahospital.com
13.   Anonymous. Kontrasepsi Darurat. [Cited 2011]. Available: http://www.emedicine.com
14.  Shoupe D, Kjos SL. Iud As Emergency Contraception. Handbook of  Contraception. 2006. Humana Press:Totowa,New Jersey. P. 134

           





































Tidak ada komentar:

Posting Komentar